Hukum Pemakaian Parfum Yang Mengandung Alkohol


Hukum Pemakaian Parfum Yang Mengandung Alkohol
              
    






      Banyak orang yang menggunakan alkohol dalam pembuatan parfum, sedangkan alkohol itu adalah  yang memabukan. Oleh karena itu, mulai bermunculan berbagai pertanyaan dalam penggunaan alkohol pada parfum, apakah parfum yang mengandung alkohol itu suci atau najis? Maka, kita akan membahas terlebih dahulu definisi alkohol, kemudian kita akan membahas bagaimana hukum menggunakan parfum yang mengandung alkohol.

     Pengertian Alkohol.


     Alkohol adalah cairan tidak berwarna yang mudah menguap, mudah terbakar, dipakai dalam industri  dan pengobatan, merupakan unsur ramuan yang memabukkan dalam kebanyakan minuman keras. Alkohol memiliki berbagai macam jenis dan yang paling banyak digunakan adalah jenis Etanol.

 
     Etanol adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun Etanol memiliki beberapa manfaat, yaitu :

     1. Sebagai obat-obatan. Sudah menjadi hal lumrah jika etanol digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan obat. Namun, tentu saja obat-obatan ini disertai dengan petunjuk dokter agar lebih tepat dalam penggunaannya.

     2. Sebagai bahan tambahan pada makanan dan minuman. Kita telah mengetahui bahwa banyak penggunaan alkohol dalam pembuatan makanan dan minuman halal, dengan syarat penggunaannya tidak lebih dari 0,5%.

      3. Dalam industri parfum, Etanol seringkali digunakan untuk membuat wangi yang ada didalam botol       menjadi tahan lama. Namun, setiap parfum yang menggunakan etanol pasti diberikan peringatan agar tidak terkena mata ataupun sampai masuk ke mulut karena dapat berabahaya untuk kesehatan

     Sebelum membahas minyak  wangi yang mengandung alkohol, kita akan memaparkan dua permasalahan :

1. Apakaha alkohol itu khamr (makanan atau minuman yang memabukan)?            

Para ulama berbeda pendapat pada pengertian khamr, apakah khamr hanyalah anggur yang diolah atau segala sesuatu yang memabukkan tanpa membedakan asal-usulnya? Dalam hal ini ada dua kelompok ulama yang berbeda pendapat :

 a.      Ulama Hijaz (Mekkah dan Madinah), Ahli hadist dan sebagian ulama syafi’I serta sebagian ulama hanbali berpendapat bahwa hakikat khamr adalah segala sesuatu yang memabukan, baik itu berasal dari anggur atau yang lainnya.

Dalil dan hujjah mereka adalah : 
  ما روي مسلم في صحيحه عن ابن عمر رضي الله عنهما : (كل مسكر خمر)     

Dari Ibnu Umar bahwasannya Nabi saw. Bersabda : “setiap yang memabukan adalah khamr”. Hadist Riwayat Muslim.
Telah jelas pada Hadist tersebut bahwa Nabi menyebutkan kata خمر (khamr) itu memiliki arti segala sesuatu yang memabukan. Pendapat ini menjelaskan bahwa alkohol itu adalah khamr

b.       Ulama Hanafiyah, Muhammad bin al-hasan dan Abu yusuf serta mayoritas Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa hakikat khamr adalah Anggur yang diolah dan diracik untuk menjadikannya sesuatu yang memabukan

Adapun dalil dan hujjah mereka adalah :

Ketika Allah mengharamkan khamr, Ia tidak menjelaskan definisi khamr tersebut. Oleh karena itu, kita wajib merujuk ke Ahli Bahasa dalam penjelasannya. Dan menurut Ahli Bahasa hakikat khamr hanyalah anggur, adapun selainnya yang memabukan disebut dengan khamr secara majaz, bukan khamr secara hakikat.
 Pada pendapat ini dapat dipahami bahwa alkohol itu bukanlah khamr
    
Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama, yang mengatakan bahwa khamr itu adalah segala sesuatu yang memabukan baik itu dari anggur ataupun yang lainnya. Karena pada saat Allah mengharamkan khamr, dapat dipahami bahwa perintah tersebut adalah untuk menjauhi segala sesuatu yang memabukan tanpa membedakan antara yang terbuat dari anggur dan yang lainnya.
Dan sesuai pendapat yang terkuat dari pertanyaan diatas, dapat disimpulkan bahwa bahwa alkohol itu adalah khamr.


2. Apakah khamr itu najis?
       
       Setelah kita mengetahui bahwa alkohol adalah khamr, maka muncul pertanyaan baru sebelum kita menyimpulkan hukum parfum yang mengandung alkohol, apakah khamr itu najis atau suci seperti cairan pada umumnya? Pada pertanyaan ini ulama terbagi menjadi dua kelompok dalam memandang apakah khamr itu najis atau tidak :

a. Khamr itu najis
        
Ini adalah pendapat yang diambil oleh mayoritas Ulama serta Imam 4 Madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i). Oleh karena itu, parfum yang mengandung  alkohol itu hukumnya najis (tidak suci). Dalil Ulama yang mengatakan bahwa khamr najis adalah sebagai berikut :

1. Al-Qur’an :

قال الله تعالى : إنما الخمر و الميسر و الأنصاب و الأزلام رجس من عمل الشيطان 

Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan setan. Al-Ma’idah : 90

Adapun penjelasannya adalah Allah mensifati minuman keras, berkurban untuk berhala dan mengundi nasib dengan anak panah dengan kata رجس  (rijsun), dan makna رجس (rijsun) secara istilah dalam Bahasa arab adalah najis.

2. Hadist :

عن أبي ثعلبة الخشني رضي الله عنه قال : يا رسول اللهِ إنا بأرض أهلِها أهل كتابٍ، وإنَّهمْ يأكلونَ لحمَ الخنزيرِ ، ويشربونَ الخمرَ ، فكيفَ أصنعُ بآنيتهِمْ وقدورِهمْ ؟ قال : دعوها ما وجدتم منها بدا، فإذا لم تجدوا منها بدا فغسلوها ثم اطبخوا فيها و كلوا.
 رواه أبو داود

Dari Abu tsa’labah Al-khusyani ra. Ia berkata : “wahai Rasulallah, kita tinggal di tempat yang penduduknya adalah Ahli Kitab, mereka memakan daging babi dan minum khamr. Lalu bagaimana aku menggunakan bejana dan perkakas mereka?” Maka Rasulullah berkata : “Buanglah selama kalian bisa mendapatkan penggantinya. Namun, jika tidak mendapatkan penggantiya, maka cucilah kemudian kemudian gunakanlah untuk memasak dan makanlah menggunakan bejana-bejana tersebut”. Hadist riwayat Abu Dawud.
  

Adapun penjelasannya hadist diatas adalah :

Seandainya khamr tidak najis kenapa Rasulullah menyuruh untuk mencuci bejana yang digunakan untuk meminum khamr? Hadist tersebut menjelaskan bahwa khamr itu najis karena Rasulullah memerintahkan para Sahabat untuk mencuci bejana yang telah digunakan untuk meminum khamr ketika ingin memakainya.

b. Khamr itu tidak najis :
               
        Ini adalah perkataan Imam Laits Bin Sa’ad Al-Muzani, Imam Daud Adz-Dzhohiri, dan juga Asy-Syaukani. Pendapat ini sekligus menjelaskan bahwasannya hukum parfum yang mengandung alkohol adalah suci dan boleh untuk digunakan. Adapun dalil mereka ambil adalah sebagai berikut :

        1.  Al-Qur’an

قال الله تعالى : إنما الخمر و الميسر و الأنصاب و الأزلام رجس من عمل الشيطان

Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan setan. Al-Ma’idah : 90

Adapun penjelasan mereka mengenai ayat tersebut adalah adalah :

ayat tersebut tidak menjalaskan bahwa khamr itu najis, adapun alasannya adalah sebagai berikut :

- Sesungguhnya arti kata رجس pada ayat diatas bukan hanya najis, tetapi ia memiliki banyak arti, diantaranya : keji, haram, laknat, buruk, dosa, najis dan sejenisnya.
- Dan arti kata رجس menurut Ahli Bahasa adalah kehinaan, dan sesuatu yang hina itu tidak pasti bermakna najis.

2. Hadist

عن أبي النعمان قال : كنت ساقي القوم في منزل طلحة، فنزل تحريم الخمر، فأمر مناديا منادي فقال أبو طلحة : اخرج فانظر ما هذا الصوت؟ فخرجت فقلت : هذا مناد ينادي : الا إن الخمر قد حرمت؟ فقال لي : اذهب فأهرقها. فجرت في سكك المدينة

Abu Nu’man berkata : "aku sedang memberi minum suatu kaum dirumah Thalhah ra.  pada saat itu datang berita pengharaman khamr, dan orang orang saling menyerukannya”. Maka Abu thalhah berkata : “Keluar dan lihatlah, suara apa itu?” Maka aku pun keluar dan aku berkata : “ini suara orang orang saling menyeru : bukan kah khamr telah diharamkan?” maka thalhah berkata kepadaku : “pergilah dan tumpahkan khamr-khamr yang ada” Maka khamr-khamr tersebut mengalir di jalan-jalan Madinah.

Penjelasan dari Hadist diatas adalah sebagai berikut :

Jika khamr najis, kenapa para sahabat melakukan hal tersebut dan Nabi Saw. Tidak melarangnya? Padahal Rasulullah melarang untuk mengotori jalan-jalan, dari pendapat ini dapat diketahui bahwa khamr itu bukanlah hal yang najis.
Jalannya orang muslim itu tidak boleh menjadi tempat bernaungnya sesuatu yang najis, hal ini menunjukan bahwa khamr itu pada hakikatnya tidak najis

Dari perbedaan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa khamr itu bukan lah sesuatu yang najis secara zhohir, tetapi ia najis secara ma’nawi (hina).

Adapun pengambilan dalil najisnya khamr itu dari Hadist Abi Tsa’labah AL-khasyani yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, bahwasannya Nabi Saw. Menyuruh mencuci bejana yang digunakan oleh Para Ahli kitab untuk meminum khamr dan memasak daging babi.
Pada hakikatnya maksud dari perintah Nabi tersebut adalah untuk menghilangkan bekas-bekas dari apa yang diharamkan untuk di minum dan dimakan. Dan tentunya tidak mesti semua yang haram itu najis.
                
Kesimpulan Hukum Parfum Yang Mengandung Alkohol :

Dari pemaparan di atas, para Ulama kontemporer mengeluarkan fatwa bahwa parfum atau pun minyak wangi yang mengandung alkohol itu suci (tidak najis) dan boleh digunakan.



و الله أعلم


Sumber : Muqorror Qodhoya Fiqhiyah Mu’ashiroh (Fiqih Kontemporer) Tingkat 1, Fakultas Syari’ah Al-Islamiyah, Universitas Al-Azhar, Kairo.




 




Share this: